Saturday, October 23, 2010

How I Met Your Father... (Season 2, episode 1)

Ya, musim kini beralih. Sebuah kehidupan baru, menanti untuk ditaklukkan. Masa-masa kuliah yang super senang, sekarang sudah selesai. Realita, benar-benar sudah di depan mata. Sudah gak ada lagi hari-hari main yang terbuang sia-sia. Saatnya untuk faced the world.


I’m a new freshmen. Dengan bayangan muluk-muluk tentang betapa ‘seru’nya dunia kerja. Betapa dewasanya saya, karena pundak bertambah bebannya. Untuk melesat terbang tinggi meninggalkan ketergantungan pada uang orang tua. Sesuatu, yang sebenernya, sama sekali gak mudah.


My Dear Princess...


Di usia awal 20, aku si anak Depok mencoba menakluk-kan Jakarta. Untuk melakukan jejak pertama aku gak segan untuk memulai benar-benar dari ‘nol’. Bukan sebagai karyawan baru, tetapi sebagai tenaga magang. Sesuai dengan major kuliah yang ku-pilih, industri periklanan Indonesia, siap ku masuki.


Saat itu, awal 2002. Kesempatannya datang tak sengaja melalui tawaran seorang teman. Sebagai copywriter magang di sebuah agency periklanan kecil di bilangan mayestik. Saat aku mulai kerja di sana, hubungan ku dengan Mr.D bisa dibilang benar-benar sudah tidak ada harapan. Kadang kangen, tapi lebih banyak lagi sudah benar-benar siap untuk melupakan.


Dan petualangan baruku di dunia kerja, sukses membuatku sibuk. Mengalihkan banyak harapan yang pernah tersimpan antara aku dan Mr. D.....


My Dear Princess...


Ternyata, masuk dunia kerja, bener-bener seperti memasukkan kaki ke sebuah dinding yang bisa tembus ke dimensi lain. It was totally different dengan dunia kampus. Semua, dituntut untuk tahu arti tanggung jawab. Gak bisa lagi suka-suka atau seenaknya. Setiap hal, gak bisa lagi dibikin asal-asalan. Harus benar-benar difikirkan dengan kesungguhan.


Dan bertemu dengan begitu banyak orang baru. Berkenalan, dan kemudian berteman. Saat itu, aku berteman dekat dengan seorang media planner di kantor. Orang baik, taat ibadah dan sayang keluarga. Pelan-pelan kami jadi lebih dekat. Tanpa direncanakan, akhirnya kami coba untuk saling menjajaki. Dengan harapan, mungkin saja kami berjodoh.


Tak perlu waktu panjang, untuk aku kembali menyadari hubungan seumur jagung ini tak akan pernah berhasil. Kembali aku menyerah, dan kami sepakat untuk kembali menjadi teman baik.


Dipergerakan waktu, di hari-hari yang berlalu, sedikit banyak berita dan kabar tentang Mr. D tetap datang dan menghampiriku....


Bersambung....

2 comments:

  1. kentaaaaaaaaaaaaaaaaaaang! mana lanjutannya?

    ReplyDelete
  2. Ah... kamu kan tahu, kakak-mu ini orangnya bosenan... Ntar klo mood, dilanjut-in lagi... *sigh

    ReplyDelete